Showing posts with label flores island.. Show all posts
Showing posts with label flores island.. Show all posts

Friday, May 31, 2013

TARIAN CACI-MANGGARAI-FLORES BARAT-INDONESIA


















Tarian Caci merupakan suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki dalam mencambuk dan menangkis cambukan lawan secara bergantian. Tarian Caci terlihat begitu heroik dan indah karena merupakan kombinasi antara Lomes (keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai), Bokak (keindahan seni vokal saat bernyanyi) , dan Lime (ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan). Pemain Caci juga dibekali kemampuan olah vokal untuk bernyani , dimana setelah menangkis cambukan lawan seorang pemain Caci secara spontan bernyanyi dan menyampaikan Paci .
Paci merupakan ungkapan berisi nama samaran atau alias dari pemain Caci tersebut yang berisi ungkapan tentang keberadaan dirinya, siapa dia atau sosok yang dia dambahkan. Tujuan dari Paci yaitu untuk mempengaruhi lawan menantang lawan dan juga untuk memotivasi atau meggelorakan semangat dari dalam diri. Kostum yang dikenakan pemain Caci sangat atraktif dan melambangkan keunikan dan karakter budaya yang dimiliki oleh orang Manggarai seperti: “Panggal” (penutup kepala) berbentuk tanduk kerbau dan salah satu lambang yang ditempatkan pada bagian kerucut atap rumah adat Manggarai. Melambangkan “rang” (kharisma dan kekuatan) orang Manggarai. “Ndeki” (berbentuk kuncir kuda) terbuat dari rotan yang dipilin dengan bulu ekor kuda, di tempatkan pada bagian ping gang, melambang kan kejantanan dan keperkasaan.
Pesona dan daya pikat lelaki Manggarai, sebagaimana seekor kuda jantan yang mengangkat ekor untuk memikat daya tarik sang betina. Sarung songke yang diikat sepanjang lutut, melambangkan kesantunan dan sikap patuh orang Manggarai. Celana panjang putih melambangkan kepolosan, kemurahan dan ketulusan hati. Tubi Rapa dikenakan sebagai manik-manik yang di ikat pada bagian bawa dagu melambangkan kebesaran dan keagungan lelaki Manggarai. Nggorong (gemerincing) diikat pada bagian belakang pinggang.
Selendang leros dililit di pinggang dan dijuntai pada bagian depan sarung. Perlengkapan permainan Caci seperti Larik (Cambuk) terbuat dari kulit kerbau dan dipilin dengan anyaman rotan pada ujungnya, Nggiling (perisai) terbuat dari kulit kerbau untuk menangkis cambukan lawan, Agang (berbentuk busur) terbuat dari rotan atau dahan bambu dipakai untuk menangkis atau menahan gempuran lawan.
Permainan Caci dilakukan antara dua kelompok dari dua kampong yang berbeda. Kelompok tamu di sebut “Meka Landang” sedangkan tuan rumah disebut “Mori Beo”. Pada saat pemain Caci beradu di dalam arena, tuan rumah, pria dan wanita yang berada di luar arena melakukan Danding (bernyanyi lagu Mang ga ra i da l am bentuk lingkaran dengan gerakan berputar) disertai gerakan Sae oleh sepasang pria dan wanita di tengah lingkaran.
Sementara itu beberapa wanita duduk berkelompok sambil memukul gong dan gendang yang bertalutalu untuk menyorakkan suasana. Sasaran cambukan dari pemain Caci adalah bagian badan sebelah atas dari perut hingga kepala. Pemukulan di bagian bawah perut dianggap pelanggaran. Apabila mengenai wajah dinamai Beke . Pemain Caci yang mengalami Beke dinyatakan kalah, harus keluar dari arena permainan pulang ke rumah atau ke kampung halamannya. Permainan Caci dipertunjukkan pada upacara 'Penti' (syukuran setelah panen), Pesso Beo (selamatan kampung), menyambut pengantin baru, tamu penting, dan dalam upacara gembira lain seperti Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan.
Text: sailkomodo2013.nttprov.go.id/index.php/2012-12-05-06-20-09/tarian-daerah/112-tarian-caci
Photo : Leonardus Nyoman / 08123662110

Sunday, May 5, 2013

Horse riding and trekking - Mbalata East Manggarai Flores island

Horse riding and trekking is our new product, this program combined with Flores adventure tours which start from Maumere in East Flores or Labuanbajo in West Flores. For horse riding and trekking located in Mbalata, start at 8 am from the beach of Mbalata, by horse riding to Watu Susu, a megalithic site of Rongga Koe in East Manggarai Regency. Horse riding takes for about 4 go and back hours then continue by trekking to see the graves and Batu Susu for about 1 hours, then ride back to the hotel.Savana, Aimere bay and Mount Ineria are the main landscape and sea view on the way to see, and also these megalithic site. more info: www.floresexotictours.com




Friday, January 25, 2013

Cunca Rami waterfall - West Flores - Indonesia















The impressive Cunca Rami waterfall, with its many pretty pools that offer a refreshing, natural swimming experience, makes a fantastic day trip from Labuan Bajo. Starting from Werang, which is located 35km southeast of Labuan Bajo, it takes you about a 1½  hour scenic walk through an area which seems to be relatively untouched by modern civilization. Hiking through small villages and agricultural land, this walk is also a lesson in culture and agriculture. If you are with a local guide, it will be easy for you to get involved in conversations with villagers and farmers along the way. The trail leads you across various villages before it stretches out into open farmlands with water buffaloes, pigs, and goats grazing freely in the fields.
You can observe the various stages of rice cultivation and the traditional drying methods throughout the trail. Keep an eye out for banana, cacao, vanilla, and avocado plantations – it is amazing how everything grows and prospers seemingly effortless in this fertile area. A local guide will help you to identify the different plants that line the walk through this Eden-like setting. In line with tradition, the farming huts and village houses are made out of bamboo: a very durable and renewable material that is also used in many other Southeast Asian communities.

Facilities
Because of the poor condition of the roads that lead to these sites, the tour is rarely offered to tourists. Correspondingly, the tourist facilities are still very basic. There are no restaurants; so be certain to bring your own water and food supplies. However basic the circumstances, the stunning natural environment is well worth the bumping trip. The local guides in Labuan Bajo are familiar with the area around the waterfall, and gladly organize your trip according to your needs.

How to go there
Follow the main road from Labuan Bajo to Ruteng. At approximately 35km, you will reach a crossroad where you must turn right in the direction of Werang. The distance from the crossing to Werang is 10.5km. This road is in poor condition and difficult to pass in the rainy season. From Werang, it will take you a 45-minute walk to the waterfall.
Text by: www.florestourism.com
Photo by : Leonardus Nyoman
Tour available to this place: Flores Exotic Tours - www.floresexotictours.com