Monday, August 20, 2012

Caci Dance-Manggarai-Flores-Indonesia

Caci – more than just a traditional Manggarai dance
Caci, a ritual whip fight, is a major element of Manggarai cultural identity. Being a unique and aesthetic delight for spectators, caci performances are an attraction to foreign as well as domestic visitors of Manggarai. Caci is played out by two male adversaries, with one of them usually coming from another village to compete. Spectators support their favorite party by cheerfully shouting out their encouragement, making it a very lively event. Caci equipment, consisting of a whip, a shield, masks, and sticks, bursts with symbolism: the aggressor’s whip is made out of rattan, with a leather-covered handle. It symbolizes male, the phallic element, the father, and the sky. The defender’s round shield represents the female, the womb, and the earth. It is usually made out of bamboo, rattan, and covered with buffalo hide. As these meanings suggest, the male and the female elements are united whenever the whip hits the shield – symbolizing a sexual unity as an essential premise in giving live. The players’ heads are covered with a wooden or leather mask wrapped with cloth and goat hair that hangs down at the back. The two horns of the mask represent the strength of the water buffalo. For additional protection from the ashes of the whip, the defender holds a stick in his left hand.

While fighting, the men wear a traditional songket (woven cloth) over a pair of regular pants. A belt of bells worn on the hip and a string of bells strapped on the ankles create a peculiar sound. The upper body remains bare and uncovered, leaving it exposed to the whips’ lashes.

After a starting signal, the whip and shield duel begins. The fighters shuffle their feet and raise spectators’ tension by running back and forth towards each other. The aggressor tries to hit his opponent’s body with the whip. However being hit does not automatically mean losing the game – it is more important which part of the body is hit in deciding the winner. A hit in the face or on the head means losing the game; a hit on the back, though, is a good sign, promising that next year’s harvest will be prosperous. The roles of aggressor and defender are reversed after every whip strike, and, after four trials, a new pair of opponents will take their chance. Even though it is a playful event, caci also has a sacrificial function: the blood that is shed from the wounds caused by the whips is an offering to the ancestors, who, in return, will ensure the fertility of the land.

Caci used to be performed frequently during Penti, a festival held after harvest to end the old agricultural year and begin the new one. Being part of the integral ceremonial and ritual context of Penti, caci was never performed as a stand-alone event. The performances lasted at least one day – more often two or three days – always accompanied by drum and gong music. The preparations for caci required many fixed ritual procedures accompanied by animal sacrifice. Other occasions for caci performances included marriages, births, and funerals. The functions of caci were manifold: besides being a social event and a way to fulfil obligations of offerings to the ancestors, it is also an opportunity for young men to prove their virility and – in the past – a means of conflict management for disputing villages.

With changing social and agricultural circumstances, and the increased interest of domestic and international tourists in this cultural attraction of Manggarai, caci performances have also turned into a business for local cultural cooperatives. As most visitors do not want to spend a whole day or more watching caci, the length of the performances is drastically reduced, showing only fragments of the process. Some people criticize that caci fights performed on demand are alienated from their original ritual and ceremonial context, and thus lose their authenticity.

However, the growing interest of foreign visitors has definitely increased the pride and self-consciousness of the Manggarai people in a fascinating element of their culture.

The best time to see caci in its original context is during Penti, which usually takes place in the dry season between July and November, depending on the region. Nowadays, most villages celebrate Penti at five-year intervals.

If you happen to be in Manggarai in the dry season, just ask the local people if there is an upcoming Penti festival. If you are lucky to be invited to a Manggaraian marriage ceremony, you might also get the chance to see caci.
sources: www.florestourism.com

Wednesday, August 15, 2012

DESA TAKPALA - PULAU ALOR

Desa Takpala adalah sebuah kampung tradisional di atas sebuah bukit namun sekaligus tidak begitu jauh dari pesisir pantai. Lokasinya berada di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor. Sebagai kampung tradisional, Takpala memiliki belasan rumah adat berbentuk limas beratap ilalang yang tertata cukup baik. Kampung adat ini kiranya patut masuk dalam daftar agenda kunjungan Anda selama berada di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur.

Desa Takpala mencuat dalam daftar kunjungan wisatawan asal Eropa setelah seorang turis warga Belanda bernama Ferry memamerkan foto-foto warga kampung ini tahun 1973. Ia mengambil foto warga Kampung Takpala untuk kalender dan mempromosikan bahwa di Pulau Alor ada kampung primitif. Sejak saat itu Desa Takpala dikenal orang-orang Eropa dan turis pun berdatangan ke kampung ini. Selain itu, tahun 1980 Kampung Takpala juga sempat menjadi juara 2 tingkat Nasional untuk kategori desa paling tradisional. Sejak 1983 Kampung Takpala ditetapkan sebagai salah satu tujuan wisata di Pulau Alor oleh Dinas Pariwisata Alor.

Kata takpala sendiri berasal kata tak (artinya ada batasnya) dan kata pala (artinya kayu). Berikutnya takpala diartikan sebagai kayu pembatas. Ada juga yang memberi definisi takpala sebagai kayu pemukul.

Suku Abui sendiri yang menghuni kampung ini adalah suku terbesar yang mendiami Pulau Alor. Mereka kadang biasa disebut juga Tak Abui (artinya gunung besar). Meski warga penduduk yang mendiami kampung ini hanya puluhan tetapi sebenarnya keturunan penduduk kampung ini telah tersebar dan telah mencapai ribuan orang. Masyarakat suku Abui dikenal begitu bersahaja dan sangat ramah terhadap pendatang.

Keseharian suku Abui di Desa Takpala ini adalah memanfaatkan hasil alam terutama hutan dengan berladang atau berburu. Otomatis saat siang hari kampung ini terlihat sepi karena sebagian dari mereka akan pergi mencari makanan ke hutan sekaligus berburu. Hasilnya selain dikonsumsi sehari-hari juga dijual di pasar. Makanan aslinya suku Abui umumnya adalah singkong dan jagung. Nasi kadang mereka konsumsi tetapi tetap dipadupadankan dengan singkong dan jagung (disebut katemak).

Kampung Takpala awalnya mendiami pedalaman Gunung Alor tetapi kemudian dipindahkan ke bagian bawah. Alasan pemindahan ini dahulu terkait kewajiban membayar pajak kepada Raja Alor (balsem). Utusan Raja Alor yang hendak memungut pajak kesulitan menjangkau kampung tersebut sehingga akhirnya dipindahkan ke bagian bawah. Adalah Bapak (alm) Piter kafilkae yang menghibahkan tanahnya untuk dijadikan lokasi Kampung Takpala seperti sekarang ini sejak tahun 1940an.

Rumah adat suku Abui di Kampung Takpala begitu sederhana namun memikat. Rumah adat ini dinamakan lopo. Bangunannya berbahan kayu berbentuk limas dan beratap ilalang terbuka seperti gazebo dengan dinding setinggi 90 cm dari bambu. Rumah adat ini disangga 6 tiang dari kayu merah dan mampu bertahan cukup lama. Ada dua jenis rumah lopo, yaitu kolwat dan kanuruat. Rumah kolwat terbuka untuk umum, siapapun boleh masuk termasuk anak-anak dan perempuan sedangkan kanuruat hanya boleh dimasuki kalangan tertentu.

Selain lopo ada juga fala foka yaitu rumah adat bertingkat 4 yang dihuni hingga 13 kepala keluarga. Rumah adat bertingkat ini lantai 1 digunakan untuk berkumpul dan menerima tamu, lantai 2 untuk ruang tidur dan masak, lantai 3 tempat menyimpan bahan pangan seperti jagung dan hasil bumi lainnya, dan lantai 4 untuk menyimpan barang-barang adat seperti moko, gong, senjata, dan lainnya. Warga Takpala mengklaim bahwa merekalah yang pertama kali membuat rumah tradisional bertingkat 4 di dunia.

Articles : http://indonesia.travel/id/destination/810/desa-takpala
Photo: Leonardus Nyoman

TARI LEGO-LEGO PULAU ALOR


TARI LEGO - LEGO- ALOR - 
NUSA TENGGARA TIMUR

Tari Lego-Lego merupakan tarian tradisional Suku Abui, suku yang mendiami kampung tradisional Takpala, terletak di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Tarian yang merupakan lambang kekuatan persatuan dan persaudaraan warga Suku Abui ini dilakukan secara massal dengan bergandengan tangan dan bergerkan secara melingkar.

Para penari memakai busana adat, sementara rambut kaum perempuan dibiarkan terurai. 
Di kaki para penari dipasang gelang perak yang akan memantulkan bunyi gemerincing jika digerakkan. 

Tetabuhan gong dan gendang dari kuningan atau moko mengiringi polah para penari yang bergerak rancak sambil mengumandangkan lagu dan pantun dalam bahasa adat setempat. Tari Lego-Lego dilakukan dengan mengelilingi tiga batu bersusun yang disebut mesbah, benda yang disakralkan dalam tradisi Suku Abui. 
Biasanya, Lego-Lego ditarikan selama semalam suntuk.

Monday, August 13, 2012

BOTI VILLAGE-TIMOR TENGAH SELATAN REGENCY TIMOR ISLAND


Suku Boti
Sources:  Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia

Suku Boti
merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor ,Atoni Metu. Wilayah Boti terletak  sekitar 40 km dari kota kabupaten Timor Tengah Selatan, So’e. Secara administratif kini menjadi desa Boti kecamatan Kie. Karena letaknya yang sulit dicapai di tengah pegunungan, desa Botiseakan tertutup dari peradaban modern dan perkembangan zaman. Suku ini memiliki bahasaDawan sebagai bahasa daerahnya.

Agama
Suku Boti dikenal sangat memegang teguh keyakinan dan kepercayaan mereka yang disebutHalaika. Mereka percaya pada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah sebagaimama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinyatermasuk manusia. Sedangkan Uis Neno sebagai papa atau bapak yang merupakan penguasa alam baka yang akan menentukan seseorang bisa masuk surga atau neraka berdasarkan perbuatannya didunia

Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari ada pembagian tugas yang jelas antara kaum lelaki dan perempuan.Para lelaki bertugas mengurusi permasalahan di luar rumah, seperti berkebun, dan berburu.Sementara urusan rumah tangga, diserahkan kepada kaum perempuan. Meskipun pembagian peranini biasa dijumpai dalam sistem kekerabatan, ada satu hal yang membuat warga Boti agak berbeda,mereka menganut monogami atau hanya beristri satu. Seorang lelaki Boti yang sudah menikah, dilarang memotong rambutnya. Sehingga bila rambut mereka semakin panjang, mereka akanmenggelungnya seperti konde.Bila kepercayaan dan aturan adat Boti dilanggar, maka akan dikenakan sanksi, tidak akan diakuisebagai penganut kepercayaan Halaika, berarti harus keluar dari komunitas suku Boti, sebagaimanayang terjadi pada putra sulung Laka Benu, kakak dari Raja Usif Nama Benu. Laka Benu yang seharusnya menjadi putra mahkota, memeluk agama Kristen sehingga ia harus meninggalkan komunitas Bot