Showing posts with label ceremony. Show all posts
Showing posts with label ceremony. Show all posts

Monday, February 27, 2017

Pasola Festival, Sumba island


The Pasola Festival is an original war ritual for giving thanks to the ancestral spirits in the region of West Sumba, East Nusa Tenggara. Therefore two groups of 25 men each, mostly from the upper and the lower village, are fighting each other while riding horses and throwing their wooden spears toward the opponent. The initiating prayer is lead by the Rato, a traditional priest, and after he threw symbolically his spear between the groups, the “war-game” immediately starts. The selected proud Sumbanese men and also their horses are wearing traditional and colorful clothes during this ceremony.











This festival is held every year in February and March in Kodi and Lamboya, unfortunately the exact dates not predictable, because it is decided by the Rato and announced only one or two weeks before.
The word Pasola derives from Sola or Hola, which means a kind of a long wooden stick used as spear. The Sumbanese people believe that the festival creates a balance between material and spiritual needs in order to live happily in earth and in heaven. It contains also a sacrificial thought so that a certain bloodshed is considered to be essential. Pasola is usually the climax of a whole series of activities to celebrate the feast Nyale. Pasola is believed to be the order of the ancestral population of adherent Marapu and expresses the essence of religion.

Friday, May 31, 2013

TARIAN CACI-MANGGARAI-FLORES BARAT-INDONESIA


















Tarian Caci merupakan suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki dalam mencambuk dan menangkis cambukan lawan secara bergantian. Tarian Caci terlihat begitu heroik dan indah karena merupakan kombinasi antara Lomes (keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai), Bokak (keindahan seni vokal saat bernyanyi) , dan Lime (ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan). Pemain Caci juga dibekali kemampuan olah vokal untuk bernyani , dimana setelah menangkis cambukan lawan seorang pemain Caci secara spontan bernyanyi dan menyampaikan Paci .
Paci merupakan ungkapan berisi nama samaran atau alias dari pemain Caci tersebut yang berisi ungkapan tentang keberadaan dirinya, siapa dia atau sosok yang dia dambahkan. Tujuan dari Paci yaitu untuk mempengaruhi lawan menantang lawan dan juga untuk memotivasi atau meggelorakan semangat dari dalam diri. Kostum yang dikenakan pemain Caci sangat atraktif dan melambangkan keunikan dan karakter budaya yang dimiliki oleh orang Manggarai seperti: “Panggal” (penutup kepala) berbentuk tanduk kerbau dan salah satu lambang yang ditempatkan pada bagian kerucut atap rumah adat Manggarai. Melambangkan “rang” (kharisma dan kekuatan) orang Manggarai. “Ndeki” (berbentuk kuncir kuda) terbuat dari rotan yang dipilin dengan bulu ekor kuda, di tempatkan pada bagian ping gang, melambang kan kejantanan dan keperkasaan.
Pesona dan daya pikat lelaki Manggarai, sebagaimana seekor kuda jantan yang mengangkat ekor untuk memikat daya tarik sang betina. Sarung songke yang diikat sepanjang lutut, melambangkan kesantunan dan sikap patuh orang Manggarai. Celana panjang putih melambangkan kepolosan, kemurahan dan ketulusan hati. Tubi Rapa dikenakan sebagai manik-manik yang di ikat pada bagian bawa dagu melambangkan kebesaran dan keagungan lelaki Manggarai. Nggorong (gemerincing) diikat pada bagian belakang pinggang.
Selendang leros dililit di pinggang dan dijuntai pada bagian depan sarung. Perlengkapan permainan Caci seperti Larik (Cambuk) terbuat dari kulit kerbau dan dipilin dengan anyaman rotan pada ujungnya, Nggiling (perisai) terbuat dari kulit kerbau untuk menangkis cambukan lawan, Agang (berbentuk busur) terbuat dari rotan atau dahan bambu dipakai untuk menangkis atau menahan gempuran lawan.
Permainan Caci dilakukan antara dua kelompok dari dua kampong yang berbeda. Kelompok tamu di sebut “Meka Landang” sedangkan tuan rumah disebut “Mori Beo”. Pada saat pemain Caci beradu di dalam arena, tuan rumah, pria dan wanita yang berada di luar arena melakukan Danding (bernyanyi lagu Mang ga ra i da l am bentuk lingkaran dengan gerakan berputar) disertai gerakan Sae oleh sepasang pria dan wanita di tengah lingkaran.
Sementara itu beberapa wanita duduk berkelompok sambil memukul gong dan gendang yang bertalutalu untuk menyorakkan suasana. Sasaran cambukan dari pemain Caci adalah bagian badan sebelah atas dari perut hingga kepala. Pemukulan di bagian bawah perut dianggap pelanggaran. Apabila mengenai wajah dinamai Beke . Pemain Caci yang mengalami Beke dinyatakan kalah, harus keluar dari arena permainan pulang ke rumah atau ke kampung halamannya. Permainan Caci dipertunjukkan pada upacara 'Penti' (syukuran setelah panen), Pesso Beo (selamatan kampung), menyambut pengantin baru, tamu penting, dan dalam upacara gembira lain seperti Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan.
Text: sailkomodo2013.nttprov.go.id/index.php/2012-12-05-06-20-09/tarian-daerah/112-tarian-caci
Photo : Leonardus Nyoman / 08123662110